Tampilkan postingan dengan label Peristiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peristiwa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Desember 2010

Satu Penambang di Palu Tewas

Andi Indra (19/12/2010) Palu - Satu lagi penambang di Poboya yang bekerja sebagai kijang (pengangkut batu), red) tewas. Belum diketahui penyebab meninggalnya buruh kijang tersebut.

Informasi yang diperoleh di lokasi tambang emas Poboya, buruh kijang yang belum diketahui identitasnya tersebut tewas Minggu pagi, sekitar pukul 07.00 Wita, usai mengangkut batu.

Saat itu, korban yang diketahui warga Gorontalo istirahat di salah satu warung. Tidak lama kemudian, korban tiba-tiba tidak sadar dan meninggal dunia.

“Belum tau penyebabnya apa, sebelum ke warung, korban sempat cuci muka di sungai setelah selesai mengangkut,”ujar Suarno, salah satu petugas Palang yang ditemui media ini di Poboya, Minggu (19/12).

Korban sudah dipulangkan ke daerah asalnya di Gorontalo sekitar pukul 11.00 Wita dengan menggunakan mobil jenazah.

Terpisah, Ketua Dewan Ada Poboya, Ali Djaluddin, yang ditemui dirumahnya belum mengetahui soal penambang yang meninggal dunia tersebut. ‘Saya belum tau, mungkin lewat palang, jadi tidak terdaftar sama saya,”ujarnya.

Menurut Ali Djaluddin, setiap penambang yang mengalami musibah atau meninggal dunia kalau terdaftar pasti akan diketahui. Selain itu, penambang yang terdaftar di dewan adat jika mengalami musibah memiliki asuransi. **

27 Mobil dan Tujuh Rumah Ludes...

Andi Indra (19/12/2010) Palu - Kebakaran hebat kembali terjadi. Peristiwa itu terjadi Minggu (19/12) sekitar pukul 03.00 dini hari, di Jalan Ketimun, Kecamatan Palu Barat. Belum diketahui penyebab terjadinya perisitwa kebakaran itu.

Sebanyak 27 mobil dalam sebuah show room mobil bekas ludes dilalap sijago merah. Tak hanya itu, api juga menghantam tujuh rumah, dua unit sepeda motor, serta dua unit genset.

Tiupan anging kencang membuat warga setempat yang menyaksikan peristiwa mengamuknya si jago merah tidak bisa berbuat apa-apa sehingga dengan lunak menghantam rumah yang berdempet-dempetan serta show room.

“Saya tidak tau api dari mana, karena saat kejadian saya berada di Kalimantan. Saya pulang tadi pagi (kemarin , red) setelah mendapat informasi dari karyawan,”ujar H Ambo, pemilik show room kepada media ini, Minggu.

Ambo yang saat itu sedang memantau show room-nya mengaku dirinya mengalami kerugian hingga milliaran rupiah. Selain 27 mobil mobil bekas, api juga menghanguskan dua rumah miliknya.

Dari dari 35 mobil yang ada dalam show room tersebut, hanya delapan yang tidak dilalap si jago merah. Selebihnya, habis dilalap api.

Selain rumah pengusaha mobil tersebut, lima rumah lainnya yang terbakar adalah milik Sul, Labora, Pattasabi, dan Madong.

Peristiwa itu berlangsung sekitar dua jam lebih. Enam unit mobil pemadam kebakaran milik Pemkot Palu terus berupaya untuk menjinakkan api, namun baru bisa dipadamkan sekitar pukul 06.00 Wita.**

Kamis, 09 Desember 2010

Mahasiswa di Palu Blokade Tiga Jalan Utama

Andi Indra (9/12/2010) Palu - Puluhan mahasiswa yang berasal dari aliansi Masyarakat Peduli Bangsa Indonesia (Ampibi) Sulteng, memblokade jalan dari traffic light persimpangan Jalan Samratulangi, Raden Saleh dan S.Parman.

Akibatnya, arus lalu-lintas di tiga jalan tersebut mengalami kemacetan dan sebagian pengendara memutar balik karena tidak bisa melintas di jalan jalan tersebut.

Pantauan media ini, puluhan mahasiswa yang terlibat dalam aksi bentrok dengan aparat kepolisian dalam aksi memperingati hari anti korupsi sedunia itu menutup empat sisi jalan di persimpangan tersebut dan membakar ban di tengah jalan.

Aksi susulan setelah kericuhan tersebut dilakukan untuk mendesak aparat kepolisian untuk melepaskan rekan-rekannya yang telah ditangkap dalam bentrokan dengan polisi saat berdemo di depan kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulteng, Kamis (9/12).

“Kami duduk disini untuk meminta polisi melepaskan teman kami yang telah ditangkap pada insiden tadi. Kalau tidak dilepas, kami akan tetap duduk disini,”ujar Taufik, salah seorang pendemo, kepada media ini.

Taufik sangat menyesalkan atas tindakan aparat kepolisian yang telah bertindak arogan dan anarkis terhadap teman-teman kami.

Sebelumnya, polisi telah menangkap sebanyak 31 orang mahasiswa karena dianggap sebagai provokator sehingga unjuk rasa yang semula adalah aksi damai menjadi ricuh.

Polisi dan pendemo saling lempar batu sehingga polisi terpaksa melepaskan tembakan-tembakan peringatan serta gas air mata dan menangkap sejumlah mahasiswa.

Murniati (26), salah seorang warga Palu, yang melintas di di jalan yang diblokade tersebut mengaku kesal dengan aksi mahasiswa yang menutup jalan.**

Unjuk Rasa Anti Korupsi di Palu Ricuh, 31 Mahasiswa Ditangkap

Andi Indra (9/12/2010) Palu - Aksi unjuk rasa memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia yang dilakukan ratusan mahasiswa tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Bangsa Indonesia (Ampibi) Sulteng, akhirnya berujung bentrok dengan aparat keamanan dari Polda. Sebanyak 31 demonstran ditangkap karena diduga sebagai provokator terjadinya kericuhan itu.

Dari 31 demontran itu, beberapa diantaranya mengalami luka karena dikeroyok oleh oknum anggota polisi yang menggunakan pakaian preman. Mereka yang luka itu diantaranya, Albar (22) luka pada bagian pinggul belakang, Suyanto (18) luka sobek pada bagian pipi kanan, Adit (18) luka pada bagian pelipis, dan Jalil (20) luka bagian kepala dan tangan.

Kericuhan itu bermula ketika para demonstran mencoba masuk ke kantor Kejati guna menyampaikan aspirasinya. Namun, rencana mereka dihalang oleh pasukan anti huru-hara yang sudah bersiap di pintu gerbang kantor Adhyaksa itu. Aksi saling dorong pun terjadi. Bahkan pendemo melempari polisi dengan telur busuk.

Aksi tersebut membuat polisi yang melakukan pengamanan melepaskan tembakan peringatan ke udara. Amphibi juga membalas dengan pembakaran ban. Namun, aksi mahasiswa semakin memanas ketika salah seorang intel bergabung dengan pendemo dan melakukan penangkapan terhadap seorang pendemo yang diduga sebagai provokator utama.

Saat itulah, situasi semakin memanas. Aksi kejar-kejaran pun terjadi. Koordinator lapangan aksi Sarinah, yang berada di atas mobil sound memimpin jalannya aksi meminta massa serta mobil sound untuk mundur. Namun, para demonstran semakin beringas melempari aparat kepolisian sehingga terjadi hujan batu.

Penjual es teller yang berada di Jalan Samratulangi, tepatnya depan Bank Indonesia itu pun ikut lari dan menutup sementara jualannya karena takut menjadi sasaran lemparan batu dan tembakan dari aparat kepolisian. Hujan batu yang berlangsung sekitar 10 menit itu pun membuat aparat kepolisian membalas dengan melakukan lemparan dan sebagian lainnya melepaskan tembakan gas air mata. Selain itu, sebagian juga menangkap satu persatu pendemo yang memicu terjadinya tindakan anarkis. Melihat kondisi tersebut, para demonstran pun berlari dan bersembunyi di rumah-rumah warga. Namun, aparat yang menggunakan pakaian preman terus melakukan pengejaran hingga masuk dalam rumah warga.

Wakapolda, Kombes Pol Dewa Parsana, dalam keterangannya saat melakukan diskusi dengan perwakilan mahasiswa dan wartawan di Aula Halim Mina, lantai II Polda, mengaku sangat menyesalkan aksi anarkis yang terjadi pada peringatan hari anti korupsi itu. “Saya sangat menyesalkan. Sejak saya berada di Sulteng, saya catat hampir setiap aksi tidak ada yang berjalan dengan mulus. Semuanya pasti ada masalah yang berbau anarkis,”ujarnya.

Padahal, menurut perwira tiga melati, alangkah baiknya jika aksi-aksi semacam itu dilakukan dengan damai sehingga penyampaian aspirasinya bisa diterima dengan baik. Selain itu, jika aksi yang dilakukan selalu anarkis, maka tidak akan ada manfaatnya karena aspirasi dari para pengunjuk rasa tidak akan diterima dengan baik bahkan tidak sampai pada tujuannya. Olehnya, Dewa Parsana meminta kepada para perwakilan mahasiswa tersebut agar kedepan, aksi unjuk rasa bisa berjalan lebih damai sehingga penyampaian aspirasinya lebih baik kepada sasaran yang ditujukan. Anarkis, kata Dewa, janganlah menjadi target dalam setiap aksi seperti di daerah lain. “Sangat baik penyampaian aspirasi itu dilakukan sesuai koridor hukum,”ujarnya.

Pada kesempatan itu, Dewa Parsana juga menambahkan, ke depan pihaknya akan segera melakukan upaya sosialisasi prosedur tetap (Protap) dalam pelaksanaan pengamanan aksi. Selain itu, juga membangun kesepakatan dengan para elemen mahasiswa maupun LSM agar dalam aksinya bisa menghindari tindakan-tindakan yang berbau anarkis. “Kesepakatan ini nantinya akan menjadi pedoman polisi dan pegangan bagi pengunjukrasa khususnya dalam proses penyelesaian jika terjadi tindakan-tindakan anarkis baik dari aparat keamanan maupun pendemo itu sendiri,” tandas Dewa Parsana.

HARUS TANGGUNGJAWAB!

Terkait dengan rusaknya beberapa peralatan aksi seperti sound system dan mobil sound yang dirusak oleh aparat kepolisian saat terjadi kericuhan, para demonstran meminta agar pihak kepolisian bertanggungjawab. “Peralatan aksi kami telah telah dirusak oleh aparat kepolisian. Lantas bagaimana pertanggungjaabannya,”ujar Jalil, salah seorang perwakilan mahasiswa yang menjadi korban pemukulan dari aparat.

Soal apa yang sudah dialami oleh teman-teman yang mendapat tindakan anarkis dari polisi, kata Jalil tidak usah dipersoalkan, tapi bagaimana dengan peralatan aksi yang dirusak oleh polisi sebab peralatan tersebut juga merupakan barang yang disewa oleh para demonstran untuk menegakkan hukum di daerah ini.

“Terus terang kami tidak punya uang untuk menanggulangi kerusakan mobil sound dan sound system itu. Jadi, kami minta bagaimana pertanggungjawaban polisi,”ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua DPRD Sulteng, Henri K Wulur, langsung menyikapi dengan menyatakan kesediaan DPRD untuk menangani soal peralatan aksi yang rusak dalam insiden itu. “Kalau soal kerusakan, nanti kami yang menanganinya. Khususnya kerusakan terhadap sound system dan mobil sound,”ujarnya.

Sementara itu, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Sulteng, Iwan Lapasere menanggapi soal aksi unjukrasa mengatakan, aksi demo anarkis tidak menyelesaikan masalah, bahkan menimbulkan masalah. Ia juga tidak sependapat jika para mahasiswa melempar batu saat aksi. Karena pengalaman sebelumnya, ada wartawan yang terkena lemparan itu.

“Ada beberapa wartawan pada demo sebelumnya terkena lemparan. Siapa yang bertanggungjawab ini?. Saya pikir, sebaiknya aksi unjukrasa dilakukan secara damai,” singkat Iwan. Usai diskusi antara Polda, mahasiswa dan wartawan, 31 mahasiswa yang diamankan dipulangkan.**


Kamis, 28 Oktober 2010

Aksi Sumpah Pemuda di Palu Ricuh, Mahasiswa-Polisi Bentrok, Satu Wartawan Jadi Korban


Andi Indra (28/10/2010), Palu - Aksi unjuk rasa memperingati hari Sumpah Pemuda ke 82 yang berlangsung di gedung DPRD Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), Kota Palu, Rabu (28/10), diwarnai dengan aksi bentrok dengan aparat kepolisian.

Kericuhan itu bermula saat pengunjuk rasa memasuki gedung rakyat untuk menyampaikan aspirasinya secara langsung kepada Ketua DPRD Provinsi Prof (Em) Aminuddin Ponulele. Namun, saat salah satu perwakilan dari DPRD menemui para pengunjuk rasa, mereka justru menolak dan tetap ingin bertemu langsung dengan pimpinan di gedung rakyat itu.

Saat itulah massa mulai memanas dan ingin masuk dalam gedung bahkan merusak fasilitas lampu teras gedung DPRD Provinsi. Aksi saling dorong pun terjadi sehingga memicu terjadinya bentrok dan aksi kejar-kejaran antara aparat dengan pengunjuk rasa.

Pantauan di gedung DPRD, polisi melakukan pengejaran terhadap mahasiswa yang melakukan aksi pengrusakan fasilitas gedung, sehingga mengakibatkan pengunjuk rasa yang lainnya panik dan lari tak terarah.

Saat aparat kepolisian berhasil menangkap salah satu mahasiswa yang dikejar, para pengunjuk rasa pun melakukan aksi pembalasan dengan melempari polisi dengan batu.

Bentrokan yang terjadi beberapa menit itu mengakibatkan sejumlah mahasiswa memar akibat terkena pukulan.

Sementara itu, salah seorang anggota Samapta yakni Briptu AA Firdhy, juga menjadi korban dalam bentrok tersebut. Ia mengalami salah urat akibat terjatuh dan terinjak-injak oleh peserta aksi saat melakukan pengamanan.

Selain itu, dalam peristiwa bentrok tersebut, seorang wartawan lokal di Palu, Fiqman Sunandar, juga mengalami luka memar di bagian jidat karena terkena lemparan batu. Beruntung, peralatan tempurnya (Kamera, red) tidak ikut rusak.

Anggota DPRD Sulawesi Tengah Ridwan Yalidjama, langsung turun ke lapangan untuk menenangkan peserta aksi dan polisi yang saling memanas. Ia menghimbau agar aparat dan mahasiswa tidak terpancing emosi berkepanjangan akibat kekacauan yang terjadi.

Aksi tersebut diikuti sekitar tiga ratus mahasiswa yang berasal dari berbagai elemen organisasi seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) MPO, Liga Mahasiswa Nasional Demokrasi (LMND), dan sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa se Kota Palu.**

Rabu, 21 April 2010

SMA Negeri 1 Palu Terbakar


Puluhan Alat Elektronik dan Dokumen Sekolah Tak Terselamatkan

Andi Indra,(21/4/2010 Palu -
Gedung tua di SMA Negeri 1 Palu, Rabu (21/4) siang, terbakar. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa kebakaran itu, namun sejumlah siswa mengalami luka ringan akibat lompat dari jendela saat kebakaran terjadi.

Informasi yang dihimpung di lokasi kejadaian, Jalan Gatot Subroto, Kecamatan Palu Timur, peristiwa kebakaran itu terjadi sekitar pukul 11.30 Wita. Api berasal dari dapur ruang guru, namun belum diketahui pasti penyebab kebakaran itu terjadi apakah api berasal dari kompor atau hubungan arus listrik.

Dalam peristiwa itu, sebanyak enam ruangan yang dilalap jago merah, namun enam ruangan diantaranya ruang Kepala sekolah, ruang wakasek, ruang multimedia, ruang guru, dan ruang ruang kelas unggulan ludes total. Selain menghanguskan ruangan-ruangan pada SMA tertua di Palu itu, puluhan alat eletronik juga dilalap.

Menurut salah seorang pegawai disekolah itu, selain menghanguskan gedung, terdapat 12 unit komputer yang ada di dalam ruang multimedia itu tidak berhasil diselamatkan karena dilalap jago merah. Selain itu, dua unit laptop, dua LCD proyektor (infokus, red), tiga unit radio tape, unit televise, AC, serta beberapa dokumen dan data-data sekolah penting lainnya ikut ludes.

Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Palu, H Abdul Chair A Machmud, yang ditemui dilokasi mengaku belum mengetahui pasti penyebab terjadinya kebakaran itu. Yang pasti, akibat kejadian ini, diperkirakan kerugian yang dialami mencapai ratusan juta rupiah.

Pantauan di lokasi kejadian, sebanyak lima unit mobil pemadam kebakaran milik Pemerintah Kota Palu, dan dua unit pemadam milik pemda Sulteng mundar mandir untuk mengatasi kobaran api itu. Sementara, para siswa yang berusaha masuk dalam sekolah untuk menyelamatkan barang-barang diruangan yang belum terkena api di evakuasi oleh aparat kepolisian guna menghindari dari bahaya kecelakaan.

Sementara itu pula, arus lalu lintas di Jalan Gatot Subroto terisolasi karena dipenuhi oleh masyarakat dan siswa. Di lokasi kejadian, sejumlah pegawai dan pejabat di dinas pendidikan, turun menyaksikan peristiwa itu yang menghasungkan gedung tua itu. (AND)

Ditinggal Anak dan Istri, Suami Ditemukan Tewas di Kamar

Diduga Karena Bunuh Diri
Andi Indra, Palu – Seorang bapak dua anak yang diketahaui bernama Syarifuddin Ahmad, ditemukan tewas di kamarnya di Jalan Ogotion, Kelurahan Bayaoge, Kecamatan Palu Barat, Rabu (21/4). Diduga, pria tersebut tewas akibat bunuh diri

Informasi yang diperoleh, sejak dua bulan terakhir, ia mengalami masalah rumah tangga, sehingga istri dan kedua anaknya meninggalkannya. Istri dan dua anaknya itu memilih tinggal di rumah orangtuanya, akibat kekesalannya terhadap sang suami yang kedapatan berselingkuh.

Saat itulah, Syarifuddin Ahmad tinggal sendirian di rumahnya. Meski memilih telah berpisah rumah, namun sekitar pukul 08.30 Wita, istri korban yang diketahui bernama Siti Hasnah, mengunjungi suaminya (korban, red). Namun, setelah berulangkali mengetuk pintu, tidak ada jawaban dari dalam rumah.

Siti Hasnah pun memanggil dua tetangganya untuk mendobrak pintu rumah. Namun, apa daya, setelah pintu rumah dan kamar dibongkar, istrinya mendapati suaminya dalam keadaan meninggal dunia.

Saat itu pula, istri korban menjerit ketika melihat kondisi suaminya. Begitupun dengan dua tetangga korban yang mendobrak pintu rumah dan langsung menghubungi pihak keplisian.

Polisi yang menerima laporan tersebut langsung menuju tempat kejadian perkara (TKP). Seluruh rumah diperiksa, untuk mengetahui motif kematian korban. Jasad korban kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk otopsi.

Kapolsek Palu Barat, AKP Ahmad Darmiyanto kepada wartawan mengatakan, pihaknya tidak menemukan makanan atau minuman berbahaya dalam kamar korban. Namun, korban diduga menghabisi nyawanya sendiri dengan menelan sesuatu yang bias membahayakan nyawanya.

“Kita belum bisa memastikan apa penyebab kematian korban. Tapi, dugaan sementara, korban tewas setelah menelan sesuatu yang berbahaya,”ujar perwira tiga balak ini.

Dari kondisi korban, lanjut mantan Kapolsek Tawaeli ini, korban tewas Selasa malam (20/4). Itu dilihat dari aroma jasad dan bentuknya, singkatnya sembari mengatakan pihaknya masih mendalami kasus ini.AND

Selasa, 20 April 2010

Mobil Milik Rental Batavia di Palu Terbakar

Tiga Mesin Alat Cuci Mobil Ludes


Andi Indra (20/4/2010) Palu- Kebakaran terjadi mengakibatkan mobil rental Batavia milik H Suhu, di Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (20/4), ludes dilalap jago merah. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa
kebakaran itu.

Informasi yang dihimpung dilokasi kejadian, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 12.30 Wita,di depan kampus Untad, Tondo, Kecamatan Palu Timur.

Mobil Daihatsu Xenia warna silver yang dikemudi oleh Sahalan (39), pegawai di Forbes (tempat cuci mobil), bergerak dari Palu. Rencananya, Sahlan bersama dua rekan kerjanya mau ke wilayah Kabupaten Parigi untuk menjual mesin cuci mobil.

Dalam perjalanannya, musibah telah menimpa ketiga pegawai Forbes tersebut. Mobil yang digunakan terbakar ditengah jalan sehingga mengakibatkan mobil ludes dan tiga alat mesin cuci mobil juga ikut ludes.

Tidak satupun yang berhasil diselamatkan dalam peristiwa itu kecuali nyawa ketiga orang tersebut.

Menurut Sahalan, awalnya api muncul dari jok belakang. Saat itu pula ia berhenti dan bergegas turun dari mobil bersama tiga rekannya untuk mencari pertolongan. Setelah berhasil menyelamatkan diri, si jago merah langsung membesar dan meledakkan mobil tersebut.

Beberapa saat setelah kejadian, mobil pemadam kebakaran milik Pemkot Palu tiba dilokasi kejadian. Sayang, mobil tersebut sudah tidak berhasil diselamatkan lagi dari kobaran api.

Sementara itu, pantauan di lokasi kejadian, ratusan masyarakat dan mahasiswa yang kebetulan melintas menyaksikan mobil tersebut. Akibatnya, jalan Soekarno Hatta depan kampus Untad mengalami kemacetan.

Akibat kejadian tersebut, diperkirakan korban mengalami kerugian hingga mencapai ratusan juta rupiah. (AND)

Rabu, 20 Januari 2010

Lima Petak Kos-kosan di Palu Dilalap Jago Merah

Andi Indra (20/1/2010), Palu - Si jago merah kembali mengamuk di Jalan Anoa 1, tepatnya di Lorong Moh Yamin, RT 3 RW 10, Kelurahan Tatura Utara, Kecamatann Palu Selatan, Rabu (20/1/). Dalam peristiwa itu, sebanyak lima petak kos-kosan
milik Hasim, salah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di BPKP ludes terbakar.
Untungnya, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa kebakaran itu. Namun, diperkirakan korban mengalami kerugian hingga mencapai puluhan juta rupiah.
Informasi yang dihimpung di Tempat Kejadian Perkara (TKP), peristiwa kebakaran itu terjadi sekitat pukul 10.00 Wita. Api dengan cepat merambat dan menghanguskan lima petak rumah serta sejumlah barang berharga milik penghuni kos. Belum diketahui penyebab kebakaran yang menghanguskan lima petak kos-kosan itu terjadi.
“Saya juga tidak tau penyebab kebakaran ini. Waktu saya datang, tiba tiba api membesar dan tidak tau berasal dari mana apinya itu,”ujar Rafiq (30), salah seorang penghuni kos yang juga dikagetkan dengan peristiwa itu.
Selain menghanguskan lima petak kos-kosan, api juga menghanguskan empat unit Televisi (TV) 14 inci, satu unit sepeda motor GL MX, serta satu unit tape mini kompo. Hingga kini, sumber penyebab kebakaran tersebut masih dalam penyelidikan.***

Selasa, 08 Desember 2009

Anggota Polda Sulteng Tewas Gantung Diri

Palu, (8/12/2009) - Seorang anggota Polri di Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), yang diketahui bernama Bripda Jenly Lesawengan, ditemukan tewas akibat gantung diri.
Informasi yang dihimpun, korban yang sebelumnya bertugas di Polres Poso ini tewas akibat bunuh diri pada Jum’at (4/12/2009) pekan lalu.

Sumber di Polda Sulteng menyebutkan, korban ditemukan sekitar pukul 23.00 Wita, oleh Ibunya Felmi Malimparias. Saat ditemukan, korban dalam keadaan tergantung di atas sebuah pohon Manggis, yang ada di belakang rumahnya, di Desa Mapanget, Kecamatan Talawaan, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut).

Sebelumnya, sekitar pukul 17.00 Wita, korban bersama keluarganya baru pulang dari kebun yang letaknya tidak jauh dari rumah korban. Namun, sekitar pukul 20.00 Wita, korban kembali bergegas keluar dari rumah meski saat itu, ayahnya bernama Benyamin, sempat bertanya kepada anaknya (korban,red) hendak kemana.

Beberapa jam setelah korban keluar dari rumah, tepatnya sekitar pukul 23.00 Wita, tiba-tiba korban ditemukan oleh Ibunya Felmi, yang ketika itu sudah dalam keadaan tak bernyawa tergantung di atas pohon Manggis.

Sumber juga menjelaskan bahwa, sebelumnya korban sempat meninggalkan tugas pada 23 Maret lalu hingga akhirnya berpindah tugas.

Kabid Humas Polda Sulteng AKBP Irfaizal Nasution SH, yang dikonfirmasi soal penemuan mayat itu membenarkan kejadian tersebut.

Senin, 07 Desember 2009

Seorang Nenek 82 Tahun di Toli toil Ditemukan Tak Bernyawa

Palu- Seorang nenek-nenek berumur 82 tahun, Senin (7/12/2009), ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di dalam rumahnya, di Desa Kalangkangan, Kecamatan Galang, Kabupaten Toli-toli, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng).
Informasi yang dihimpun, korban yang diketahui bernama Setti, suku bugis, ditemukan oleh warga setempat sekitar pukul 06.00 Wita. Saat ditemukan, nenek paruh baya ini sudah dalam keadaan tak bernyawa lagi.

Saat ditemukan, terdapat luka memar dibagian kanan mata korban. Kuat dugaan bahwa korban tewas karena ulah oknum yang belum diketahui identitasnya

Kapolres Toli toil AKBP Ramadhan yang dikonfirmasi soal penemuan mayat itu membenarkan kejadian tersebut. “Benar, telah telah ditemukan mayat seorang nenek-nekek yang berumur 82 tahun. Saat itu juga, jenazah korban langsung dibawa ke Rumah Sakit untuk di visum,”ujarnya.

Saat ditanya soal adanya indikasi bahwa korban tewas karena dibunuh oleh oknum tertentu, perwira dua melati bungan ini enggan berkomentar lebih jauh. “Kita masih lakukan penyelidikan dulu, tunggu saja perkembangannya,”ujar Ramadhan.

Lebih jauh Ramadhan, terkait kasus ini, pihaknya telah memanggil sejumlah saksi-saksi yang ada di sekitar lokasi kejadian untuk diambil keterangannya di Polsek Galang serta Reskrim Polres Toli toil.

“Jadi, saat ini kasusnya masih dalam tahap penyelidikan. Nanti kalau ada perkembangan kita infokan. Untuk saat ini, kita masih mengumpulkan beberapa barang bukti termasuk keterangan dari saksi setempat di lokasi kejadian,”tutupnya--indra07--

Selasa, 17 November 2009

Korban Tenggelam di Sungai Palu Ditemukan

Palu- Korban tenggelam di Sungai Palu, Kamis (12/11) silam, ditemukan mengambang di bawah Jembatan I, kemarin (13/11) sekitar pukul 05.30 Wita. Korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sulteng untuk diotopsi.

Informasi yang diperoleh, korban bernama Ipin (20), warga Desa Wombo, Kecamatan Tana Ntovea, Kabupaten Donggala yang bekerja sebagai buruh tanggul ditemukan seorang pemulung dalam kondisi tak bernyawa. Pemulung itu langsung melaporkan penemuannya kepada pihak berwajib.

Setelah tiba di RS Bhayangkara Polda Sulteng, keluarga korban langsung membawa jenazah almarhum ke tempat tinggalnya. Keluarga korban sendiri tidak mempermasalahkan persoalan ini, karena kasus ini adalah kecelakaan murni.

“Kami bersyukur karena korban telah ditemukan. Rencananya, korban akan kami bawa ke Wombo untuk dikebumikan,” ujar salah seorang keluarga korban.

Dia menambahkan, tidak ada unsur kriminal atas kejadian ini, sehingga keluarga pasrah atas apa yang telah terjadi. Disamping itu, semua ini adalah kehendak Tuhan, keluarga hanya bisa mengambil hikmah atas kejadian ini.

Setelah keluarga korban diperiksa polisi, keluarga korban pun dipersilahkan untuk mengambil jenazah korban untuk dikebumikan.

Sebelumnya diberitakan, salah seorang pekerja tanggul bernama Ipin (20), warga Desa Wombo, Kecamatan Tana Ntovea, Kabupaten Donggala hanyut terseret arus Sungai Palu, saat menyeberang sungai itu, Kamis (12/11) sekitar pukul 09.30 Wita.

Warga setempat dibantu Tim SAR melakukan pencarian, namun hasilnya nihil. Korban baru ditemukan setelah 19 jam berada di dalam air, dalam kondisi tak bernyawa. Saat ini, korban telah dikebumikan di Desa Wombo, kediaman orang tuanya.--07--

Kamis, 12 November 2009

Pekerja Tanggul di Sungai Palu Tewas Tenggelam


Palu- Ipin (22), Warga Desa Wombo, Kecamatan Tanantovea, salah seorang pekerja pada proyek pembangunan tanggul di Sungai Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), Kamis siang (12/11), tewas akibat tenggelam dibantaran sungai Palu.


Informasi yang dihimpun di Tempat Kejadian Perkara (TKP), peristiwa itu terjadi sekitar pukul 09.30 Wita. Saat itu, Ipin hendak mengambil bahan bakar solar yang sudah disedeiakan di cam sebelah sungai bagian selatan.


Naas bagi korban Ipin, saat hendak kembali menyeberang, korban tiba-tiba terbawa arus sungai bersama jerigen berisi solar yang hendak di bawa ke cam yang ada di bagian barat. Korban pun hanyut bersama jerigin berisi solar itu.


“Awalnya, korban masih kelihatan bersama jerigen yang ia bawa tadi. Sekitar 4-5 meter hanyut, korban sudah tidak terlihat lagi, yang ada hanya jerigen yang terbawa arus, ujar Iwan, salah seorang saksi mata kepada Sultengnews, di lokasi kejadian.


“Mungkin korban sudah tenggelam, sehingga tidak terlihat lagi. Apalagi, sungainya sangat dalam. Arus air juga sangat kencang di bagian tengah itu,”kata Ibu Lastri.


Korban tidak mengira bahwa sungai yang ia lewati sangat dangkal, karena sebelumnya, ia menyebrang di bagian sungai yang dangkal.


Sementara itu, warga sekitar lokasi kejadian yang mendengar peristiwa berusaha melakukan pencarian dengan cara menyelam di sekitar lokasi kejadian bersama tim sar dari Angkatan Laut (AL). Namun hingga sore, korban belum ditemukan.AI--07--