Kamis, 05 November 2009

Polisi Tangkap Pengedar Pil Kopli di Donggala

Palu- Seorang pengedar obat-obat keras jenis pil kopli yang beraksi di wilayah Kabupaten Donggala tertangkap aparat kepolisian Polres Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Tersangka yang diketahui bernama Edy Efendy, ditangkap sekitar pukul 19.00 Wita, di Jalan H Samauna, Kelurahan Labuan Bajo, Kabupaten Donggala, saat hendak mengedarkan obat keras jenis Kopli merek Y tersebut kepada penyalur untuk disebarkan pada Selasa (3/11), lalu.

Kasat Reskrim Polres Donggala AKP I Wayan Sudarmata SIK, mengungkapkan, tersangka ditangkap setelah melakukan tranksaksi obat keras jenis Kopli merek Y sebanyak 1031 butir. Selain menangkap tersangka, polisi juga menyita uang senilai Rp750 ribu dri tangan tersangka beserta ribuan butir obat keras.

Ribuan butir obat keras tersebut, kata Wayan, akan di berikan kepada penyalurnya yang ada di wilayah Donggala untuk diedarkan. Namun, pihaknya langsung menggagalkan langkah tersangka dengan menyergap saat hendak melakukan tranksaksi di Kelurahan Labuan Bajo.

Penangkapan tersangka sendiri dilakukan setelah pihaknya mendapatkan informasi dari masyarakat setempat terkait aktifitas tersangka. Saat itu juga, polisi langsung menindaklanjuti dan ternyata laporan tersebut benar adanya, ujarnya.

Dari keterangan tersangka, tutur Wayan, obat-obat keras tersebut diperoleh tersangka dari pengiriman mobil box yang berasal dari Makasar, Sulawesi Selatan.

“Kuat dugaan, jauh sebelumnya tersangka sudah memesanng obat keras tersebut untuk diedarkan di daerah ini,”tandas perwira tiga balak ini.--07--

Rabu, 04 November 2009

Pejabat Polda Dicatut Memeras

Irfaizal: Jangan Dilayani Kalau Ada

Palu
- Aksi pemerasan yang mengatasnamakan berasal dari oknum anggota Polda Sulawsi Tengah (Sulteng), di lokasi tambang emas, Kelurahan Poboya, Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) yang terjadi beberapa hari terkahir ditampik oleh pihak Polda Sulteng.

Tak tanggung-tanggung, Ketua Dewan Adat Poboya, Ali Djaludin, pun menjadi sasaran utama oleh oknum pemeras untuk menjalankan aksinya.

Informasi yang dihimpun, oknum pemeras yang mencatut nama salah seorang pejabat berpangkat dua melati bunga di jajaran Polda Sulteng itu telah meminta-minta uang kepada penambang, termasuk Ketua Dewan Adat, dengan alasan, uang tersebut akan digunakan untuk sumbangan kepada korban kebakaran di kompleks Pasar Masomba, yang terjadi beberapa pekan lalu.

Kabid Humas Polda Sulteng AKBP Irfaizal Nasution SH, yang dikonfirmasi soal isu adanya pemerasan di lokasi tambang emas Kelurahan Poboya, yang mengatasnamakan pejabat di Polda membantah isu tersebut.

“Mana ada, itu tidak benar. Kalaupun ada, ya jangan dilayani orang itu karena tidak benar,”ujar Irfaizal yang ditemui wartawan di ruang kerjanya kemarin (4/11).

Kejadian yang justru akan berdampak pada citra kepolisian di Sulteng, menurut Irfaizal itu wajar, namanya saja penjahat, segala macam cara yang akan dilakukan termasuk mencatut nama pejabat di Polda Sulteng. Dan hal tersebut sudah sering terjadi nama pejabat selalu dicatut untuk menakut-nakuti masyarakat agar aksinya berjalan lancar.

“Saya berharap kepada masyarakat, kalau memang ada kejadian seperti itu jangan dilayanilah. Kalau mengatasnamakan pejabat mohon di cek dulu lah,”ucapnya.

Terkait dengan kejadian tersebut, Irfaizal mengaku pihaknya akan melakukan penyelidikan. Kalau dapat kita akan tangkap orangnya dan memproses sesuai prosedur hukum yang berlaku. Untuk itu, partisipasi masyarakat Sulteng sangat diharapkan demik kelancara tugas dalam mengungkap hal-hal seperti itu. Tutupnya.

Selasa, 03 November 2009

POLDA SULTENG SIAGA SATU

Antisipasi Terjadi Aksi Besar Besaran

Palu – Maraknya aksi unjuk rasa secara besar-besaran untuk memberikan dukungan terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang terjadi di sejumlah daerah beberapa hari terakhir membuat lembaga kepolisian menerapkan siaga satu.

Termasuk di jajaran Polda Sulawesi Tengah (Sulteng), juga harus melakukan siaga satu untuk mengantisipasi hal tersebut terjadi di Palu, Sulawesi Tengah.

Informasi yang dihimpun, Selasa (3/10), di Polda Sulteng Jalan Sam Ratulangi, perintah untuk siaga satu di jajaran Polda Sulteng tidak disampaikan melalui apel besar. Namun, hanya disampaikan melalui pengeras suara di halaman belakang Mapolda.

Siaga satu itu diterapkan dalam rangka mengantisipasi aksi demontrasi massa pendukung KPK seperti yang terjadi di daerah-daerah lain di Indonesia.

Dalam penyampaian itu disampaikan, semua personel Polda Sulteng agar tidak meninggalkan Mapolda sebelum jam kantor usai.

“Kalau yang saya dengar-dengar siaga satu diberlakukan untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu unjuk rasa besar-besaran seperti yang terjadi di luar Kota Palu. Artinya siap-siap untuk pengamanan saja, bukan siaga satu seperti pengamanan Pemilu,” kata sumber di Polda Sulteng yang enggang dipublikasikan namanya.

Sementara itu, Karo OPS Polda Sulteng, Kombes Pol Sukoraharjo, yang dikonfirmasi oleh sejumlah wartawan soal pelaksanaan siaga satu di jajaran kepolisian membenarkan hal tersebut.

“Ia memang benar kita lagi siaga satu untuk mengantisipasi adanya kemungkinan aksi demo besar-besaran dukungan terhadap KPK.

Saat ditanya berapa jumlah personel yang disiagakan, Sukoraharjo menjawab tidak diprediksi. “Kita tidak prediksi berapa personel yang disiagakan. Yang jelas, semua personel tetap harus stand bye untuk mengantisipasi jika terjadi aksi,”ujarnya.

Pelaksanaan siaga satu itu sendiri sudah mulai dilakukan sejak Senin lalu yang secara serentak di seluruh Indonesia. --07--

ILALANG TERBAKAR

Warga Karajalemba Panik Histeris

Palu - Gara-gara ilalang terbakar, warga di sekitar Karajalemba, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah, Senin (2/11), mendadak panik. Informasi yang dihimpun, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 13.20 Wita.

Ilalang terbakar yang berada tepat disamping pemukiman warga tiba-tiba membesar dan dengan cepat merambat ke lokasi lain karena tertiup anging kencang.

Beruntung, dalam peristiwa tersebut, api tidak merambat ke perumahan warga yang berjarak kurang lebih 30 meter, karena berhasil diatasi oleh tim pemadam kebakaran (Damkar) milik Pemerintah Kota (Pemkot) Palu.

Reni (23), salah satu warga yang nyaris rumahnya jadi korban aksi si jago merah itu mengaku dikagetkan dengan peristiwa itu karena sebelumnya, Reni yang juga mahasiswa di Fisip Untad ini belum melihat adanya api ataupun asap dari sumber api itu ketika ia baru pulang dari kampus.

“Belum lama ini saya baru pulang dari kampus, dan tidak ada tanda-tanda. Saya juga tidak melihat adanya asap,”ujarnya dengan sedikit panik.

Sementara itu, Aco (35), salah seorang warga setempat yang juga salah satu saksi mata dalam peristiwa tersebut, mengungkapkan api sangat cepat merambat. Selain tertiup angin kencang, rumput-rumputnya juga sudah kering.

“Makanya api cepat merambat. Untung, saja mobil pemadam cepat datang sehingga tidak mengenai rumah kami,”tuturnya.

Sementara itu, pantauan di lokasi kejadian, dua unit mobil pemadam kebakaran menyiram ilalang-ilalang terbakar itu. Untuk mencegah agar api tidak merambat ke tempat lain, petugas pemadam mengantisipasi api dengan menyiram ilalang dari sebelah ilalang yang sudah terbakar.

Sementara, warga setempat juga turun tangan dengan melakukan aksi potong rumput untuk memberikan jalan kepada petugas pemadam masuk dalam semak-semak ilalang karena diduga api masih ada didalam semak ilalang kering itu.***

Minggu, 01 November 2009

Workshop AJI Palu

Bahas Soal Upah Jurnalis di Kota Palu

Palu- Workshop yang bertajuk Pentingnya Serikat Pekerja, untuk Meningkatkan Kesejahteraan pekerja yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Palu di Restoran Kampoen Nelayan, Sabtu (30/10) akhir pekan lalu menghasilkan delapan rekomendasi penting demi penigkatan kesejahteraan karyawan (buruh, red) dalam hal ini para pekerja pers di kota ini.
Delapan rekomendasi itu diantarannya menyusun upah layak jurnalis Palu, memberikan pemahaman bagi pemilik perusahaan pers tentang pentingnya serikat pekerja dan kesejahteraan para pekerja media, melakukan survey gaji jurnalis di Kota Palu, membentuk serikat pekerja di masing-masing media, membuat forum regular pertemuan untuk mendiskusikan tentang serikat pekerja, menggandakan materi pendirian serikat pekerja, membuat artikel pengalaman dan manfaat adanya serikat pekerja media di harian Mercusuar, serta membuat jaringan melalui milis.
Kegiatan yang diikuti oleh sejumlah wartawan dari perwakilan media cetak maupun elektronik dan media on line yang ada di kota ini, juga membahas soal upah para pekerja pers terkait standarisasi upah minimum provinsi/kota (UMP/K).
Saat ini, masih banyak perusahaan khususnya pers yang memberikan upah minimum kepada pekerjanya yang sangat jauh dibawah standar. Bahkan, salah seorang peserta workshop pun pada kesempatan itu ikut berbicara dan memberikan keluhannya terkait upah yang salama ini ia terima perbulan yang boleh dikatakan sangat jauh dibawah standarisasi UMP/K.
Menanggapi hal tersebut, AJI Palu, sebagai lembaga advokasi dan wadah berhimpung bagi pekerja pers mengaku siap untuk menfasilitasi para pekerja pers untuk melakukan survey ke perusahaan pers kemudian meminta agar perusahaan pers tersebut menerapkan system upah bagi karyawannya sesuai standar minimin yang ditetapkan oleh pemerintah.
“Ini akan menjadi program prioritas kita di AJI Palu. Insya Allah, kita akan melakukan survey dan mendatangi kantor perushaan pers yang ada untuk melakukan lobi-lobi khususnya mengenai upah karyawannya,”tandas Ketua AJI Palu, M Ridwan Lapasere, menanggapi pernyataan salah seorang peserta workshop.--07--